Pesta Belum Usai!: Perjuangkan Hak dan Suara Politik Kita!
![]() |
| Poster Pesta Belum Usai |
Film ‘Yang Ketu7uh’ yang merupakan pemicu dari
diskusi dan pengingat akan pesta demokrasi yang terjadi beberapa waktu lalu
mendapat respon yang baik dari pembicara. Mereka berpendapat bahwa film yang
disutradarai oleh Dandhy Laksono ini merupakan dokumenter yang baik karena
dapat merekam pesta demokrasi dari awal sebelum pesta itu berlangsung dan
setelah pesta itu selesai. Film ini juga menggambarkan pemilu dari perspektif
masyarakat bawah dan repolitisasi warga, pembicara mengatakan bahwa masyarakat
harus melek politik dan perdebatan pilpres tidak hanya berada dikalangan elit
saja namun juga diseluruh lapisan masyarakat. Kenetralan yang ada didalam film
menjadi bumerang bagi film ini, dimana pembicara menganggap bahwa
ketidakberpihakan dari film ini menyulitkan masyarakat untuk menangkap tujuan
yang direpresentasikan film ini.
Setelah
film selesai diputar kemudian dilanjutkan dengan diskusi terkait film dan
kaitannya dengan penerapan UU Pilkada. apa yang hilang dengan adanya UU
Pilkada? Menjadi salah satu topik yang dibahas dalam diskusi. Para pembicara sepakat
untuk berkata bahwa yang hilang adalah hak pilih kita, ketika kondisi yang ada
pada film ‘Yang Ketu7uh’ tidak akan terjadi lagi hingga hilangnya ruang publik
dan perdebatan perdebatan hanya ada pada kalangan elit yang menyebabkan
masyarakat kembali di depolitisasi dan memungkinkan terjadinya politik uang.
Saat masyarakat yang memilih, akan mendorong partai politik untuk memperbaiki
dirinya dan selalu berpihak pada rakyat serta hanya memajukan calon yang pro
rakyat. Jokowi membiarkan parlemen kuat karena jokowi menaruh harapannya pada
kekuatan rakyat sebagai penyeimbang kekuatan parlemen.
Dilihat dari perspektif sejarah,
keadaaan masyarakat sekarang sudah dipengaruhi sejak masa Orde Baru berkuasa.
Orde Baru memiliki strategi yang sistematis untuk mendepolitisasi masyarakat.
Ekonomi dijadikan jendral dalam pembangunan. Masyarakat didepolitisasi dan
mendukung semua keputusan ekonomi pemerintah. Mengikuti Pembangunan dianggap
sebuah partisipasi untuk mendukung segala keputusan pemerintah. Ini sangat
berbeda dengan strategi yang dijalankan oleh pemerintahan Soekarno sebelumnya
yang menjadikan politik sebagai panglima, demi terwujudnya revolusi sosial
berdasarkan konsep Trisakti (berdaulat secara politik, mandiri dalam hal
ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan) yang dicanangkan Soekarno.
Demi menancapkan kekuasaannya selama
32 tahun, Soeharto menghabisi lawan-lawan politiknya dengan cara yang
sistematis. Pasca huru-hara sejak meletusnya peristiwa G 30 S, Soeharto
menghancurkan kekuatan politik Soekarno dan pendukung-pendukungnya dan
menawatkan riwayat Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pada masa itu merupakan
partai revolusioner yang memperjuangkan Rakyat menuju revolusi sosial.
Terhitung sekitar 500 ribu hingga 2 juta Rakyat Indonesia yang dianggap
‘anasir-anasir kiri’ tewas atau hilang akibat pembersihan yang dilakukan oleh
Soeharto dan militer selama periode 1965-1969. Kemudian dibangun labelisasi
bahwa militer merupakan penyelamat bangsa dari penghianatan yang dilakukan oleh
PKI. PKI menjadi pihak yang dijatuhkan dan terlarang kehadirannya di alam
pembangunan Orde Baru.
Politik pada masa rezim Orde Baru
hanya dinikmati oleh para elit saja. Rakyat hanya mendapat jatah berpolitik
dengan cara berpartisipasi dalam pemilu lima tahun sekali. Partai politik pada
masa itu (terhitung sejak Pemilu 1971) dikerucutkan menjadi tiga partai politik
saja, yakni Golongan Karya (Golkar) yang merepresentasikan pemerintah (termasuk
militer dan PNS), Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang mencakup kalangan
nasionalis dan kaum Kristiani, sertai Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang
mewakili golongan Islam. Tentu saja dalam setiap pemilihan umum yang dijalankan
selama Orde Baru, Golkar selalu menjadi jawara. Masyarakat sudah tahu bahwa
Golkar pasti akan memenangkan suara di dalam pemilihan umum. Hal ini
dikarenakan konsep massa mengambang yang diterapkan pada rezim Orde Baru.
Masyarakat didepolitisasi sehingga menciptakan masyarakat yang apolitis.
Pengaruh lain yang Orde Baru
ciptakan adalah bentuk imperialisme yang sangat sistematis, serta transaksi
Orde Baru dengan kapitalis internasional melalui penanaman modal asing. Selama
32 tahun, hak politik rakyat betul-betul dibungkam. Orde Baru menanamkan sebuah
rezim otoritarian dan masuk ke dalam pikiran seluruh masyarakat, sehingga Orde
Baru adalah sebuah –isme yang sudah mendarah daging dan memengaruhi pemikiran
dan sistem perpolitikan di Indonesia. Fenomena seperti Jokowi, Risma dan Ridwan
Kamil akan menimbulkan ketakutan bagi
para Orde Baru-isme. Inilah poinnya mengapa UU Pilkada harus dipertanyakan dan
mendorong kembalinya Pilkada langsung dilaksanakan.
Topik
yang dibahas selanjutnya adalah gerakan apa sebenarnya yang dapat dimengerti
banyak orang yang akhirnya akan membuat mereka sadar untuk menolak UU Pilkada?.
Gerakan gerakan yang harus dilakukan adalah gerakan gerakan persuasif yang
sifatnya dinamis baik itu lewat seni ataupun social campaign yang memberikan penyadaran dan fokus sasarannya
adalah generasi muda dan kelas menengah. Sehingga mereka sadar bahwa pemilihan
langsung itu perlu karena saat pemilihan langsung kita mempunyai kontrak antara
diri kita dan orang yang kita pilih sehingga saat pilihan kita melanggar
kontrak tersebut maka yang paling tersakiti adalah kita yang akhirnya akan
merubah kita kedepannya menjadi pemilih yang kritis dan baik yang selama ini
kita tidak diajarkan kritis dan masih terbelenggu hegemoni orde baru. Demokrasi
secara langsung adalah keinginan normal semua masyarakat.
Lantas
bagaimana cara meningkatkan kepedulian mahasiswa terkait masalah ini?. Keluar
dari comfort zone dan hegemoni Orde Baru,
belajar menjadi kritis dalam melihat sesuatunya dan lebih banyak mempertanyakan
dan mencari tahu. Pembicara berkata bahwa mahasiswa banyak yang tidak peduli
karena sudah terjebak oleh comfort zone
khas tahun 80-an dimana masyarakat adalah sesuatu yang harmonis dan jika ada
yang tidak sama atau berbeda dengan masyarakat akan dianggap aneh dan harus
meminta maaf, hal ini menyebabkan reformasi adalah hal asing karena otak kita
yang ditumpulkan oleh konsumsi. Mahasiswa tidak boleh puas dengan gerakan extraparlementer.
Lakukan kombinasi gerakan offline dan
online dengan cara memaksimalkan teknologi
informasi dan komunikasi serta tetap diseimbangi dengan kegiatan nyata dan
fisik.
Berangkat
dari situ, maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah menjadi sadar dan paham
bahwa Politik itu
masalah personal agar kita bisa membaca kepentingan
yang bermain di dalamnya. Jadilah pembangkang yang tidak diam dengan kondisi
yang ada. Terus perkuat pengetahuan dengan membaca sejarah-sejarah yang beum
pernah dipelajari, khususnya pada masa Orde Baru. Orde Baru sebagai –isme
haruslah dihancurkan pengaruhnya dalam alam pikir dan tindakan masyarakat
Indonesia. kenali dan tandai Orde Baru dan kebangkitannya di masa sekarang.
Awasi dan kenali agenda mereka selanjutnya. Jangan sampai suara politik kita
sebagai Rakyat dicabut dengan adanya UU Pilkada. Kita akan terus bergerak,
sebab pesta belum usai!

0 comments: